Tuhan,, tak terasa sudah hampir satu bulan aku tak membelai wajah tirusnya. Tak mencium tangan keduanya.. yang ku ingat satu bulan yang lalu ketika aku akan kembali ke perantauan, ada sedikit amarah yang ku pendam. Aku kecewa dengan mereka yang masih menganggapku seperti anak kecil dan masih tak membebaskanku untuk berbuat. Memang awalnya aku marah kepada mereka. Beberapa kali aku menelpon rumah, tak sekali pun aku berbicara dengan ayah. Rupanya masih ada rasa jengkel pada ayah. Hingga suatu kali saat aku menelpon rumah, ayah memaksa ingin bicara denganku... satu detik, dua detik, tak terdengar suara apa pun dari beliau. Hingga kemudian, aku mendengar isak tangis ayah. Sambil menahan tangis, ayah meminta maaf kepadaku... hanya kata itu yang aku dengar dari mulutnya, dan kemudian ia tak mampu membendung tangis.
Astagfirullahaladzim... betapa jahatnya aku, betapa teganya aku hingga membuat tangis ayah.
Dan aku baru sadar, semua yang ku lakukan sangatlah egois. Harusnya aku tau jika ayah hanya ingin menjagaku, hanya ingin melindungiku, dan hanya tak ingin jika aku tersesat dan terluka.
Ya Allah ampuni aku jika selama ini aku terlalu jahat kepadanya.. beliau menangis karena takut telah melukai hatiku. Sedang aku terlalu bodoh hanya menuruti perasaan. Aku sungguh menyesal telah membuatnya sedih.
Maafkan aku ayaah.. I love you...
Ampuni aku ya Allah.. tak akan lagi ku berbuat demikian.. tak kan ku kecewakan dan membuat mereka bersedih,,
Dan sekarang aku sangat merindukan mereka.
Jakarta, 19 Mei 2012
Jakarta, 19 Mei 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar